Cara membangun teamwork yang baik untuk menghadapi setiap tantangan dalam bisnis

Cara membangun teamwork yang baik untuk menghadapi setiap tantangan dalam bisnis

Jasalogounik.com — Setiap pengusaha tentu ingin mendapatkan teamwork yang bisa bekerja efektif dan saling support antara team yang satu dengan lainnya. Teamwork dalam berbisnis sangatlah penting, karena tanpa ada teamwork yang solid, kemungkinan bisnis tersebut akan pincang dan bahkan bisa-bisa bisnis tersebut kolaps di tengah jalan. Artikel cara membangun teamwork yang baik tentu sangat banyak anda temui di internet. Semua memiliki cara pandang tersendiri dan pada kesempatan ini kami berusaha untuk melengkapinya.

Tim kerja atau teamwork merupakan aset terpenting bagi suatu bisnis. Oleh karena itu, agar roda bisnis dapat berputar dengan mulus tanpa rintangan, persoalan ini tentu harus mendapatkan perhatian yang lebih.

Ketika membangun tim kerja, target jangka pendeknya adalah membangun ikatan yang erat dan alur kerja yang baik, sehingga terbentuk tim yang solid. Orang-orang yang berada dalam lingkaran teamwork seharusnya benar-benar orang-orang yang punya komitmen dari awal.

Penting untuk diingat, bahwa membangun teamwork yang baik seharusnya tidak hanya dilakukan di awal. Teamwork laksana roda bagi sebuah kendaraan, ketika ikatan mereka solid, maka kendaraan dapat berjalan dengan mulus atau setidaknya dapat terus maju walau bagaimanapun tantangan yang akan ditemui.

Berikut ini adalah beberapa sarana atau cara untuk membangun teamwork yang baik dan solid yang dapat diterapkan pada awal bisnis.

Saling berbenah diri sedari awal

Poin pertama ini adalah langkah awal yang baik agar iklim dalam bisnis tertata dengan baik. Budaya dalam kerja harus dibangun sebaik mungkin, bukan hanya bekaitan dengan interaksi eksternal, namun juga internal. Bila perlu, setiap pola dan tingkah laku yang harus dilakukan oleh teamwork dicatat dengan baik sehingg akan membangun kesadaran di dalam tubuh tim. (Baca: Brand anda ingin mudah terkenal? Tentukan dulu apa pola utama brand anda).

Pada sebagian perusahaan, ada yang menerapkan aturan tentang adab dan akhlak ketika berinteraksi secara internal. Baik terhadap sesama staf atau terhadap karyawan.

Hal ini sangat baik dan patut diapresiasi, karena hal ini dapat mendukung terbetnuknya iklim yang baik dalam pergaulan di dalam perusahaan.

Sebagai contoh, ketika team berkomunikasi baik itu berhubungan dengan tugas atau bercakap-cakap, maka wajib menggunakan kata-kata yang sopan, santun dan tidak boleh mengeluarkan nada tinggi, meskipun dalam keadaan emosi.

Hal ini, dalam keadaan yang pelik dapat membantu iklim perusahaan terus solid, saling menghargai dan tidak mudah menyinggung team yang lain. Jika ini sudah terbangun, maka setiap orang pun akan merasa nyaman untuk bekerja, bahkan akan tetap betah berada di kantor atau di lingkungan bisnis.

Berbenah diri harus dimulai oleh siapapun, cara ini terbilang efisien untuk membangun teamwork yang baik dan solid. Walaupun terkesan remeh, namun cara ini harus dengan upaya yang lebih untuk melatih kesabaran. Mulailah dari diri sendiri, sebelum orang lain.

Percayalah, teamwork mampu menghadapi tantangan dalam bisnis, meskipun itu terasa berat bagi mereka. Namun, ketika interaksinya terjalin dengan baik dan menyenangkan, tentu saja setiap tantangan yang sulit itu terasa ringan ketika dihadapi bersama.

Kepercayaan temwork juga patut untuk terus ditingkatkan. Ketika ada rasa kurang saling percaya, maka harus segera dideteksi dan dicari solusinya. Diantara hal yang membuat kepercaayaan teamwork berkurang contohnya adalah suka malas-malasan atau selalu ngaret ketika ada rapat. Budaya ini akan membuat disiplin menjadi langka dan sulit untuk membuat tim kerja menjadi lebih solid.

Selalu menyapa, ramah dan memperlihatkan spirit

Cara meningkatkan teamwork yang baik berikutnya adalah dengan saling menyapa, menyebarkan salam dan memperlihatkan spirit atau semangat. Taukah anda, bahwa seberat apapun seseorang pergi ke kantor, namun ketika ia melihat teman-temannya selalu semangat, maka hal ini akan memberikan inspirasi bagi yang lain.

Coba anda bayangkan, bagaimana jadinya jika didalam tim kerja ada seseorang yang selalu tampak murung, tidak pernah tegur sapa dan selalu terlihat loyo. Keadaan tersebut, bukan tidak mungkin akan menular kepada yang lain. Kami pun pernah mengalami hal ini.

Ketika didalam teamwork itu ada yang malas, namun ketika melihat yang lain bekerja secara cekatan dan semangat, maka akan memompa semangat yang lain. Tim yang sebelumnya “galau”, ketika melihat orang lain semangat, maka dia pun akan menjadi semangat dan optimis. Padahal, boleh jadi, pada saat itu bisnis sedang menghadapi tantangan yang berat. Namun, akhirnya tantangan itu terasa ringan dan bukan malah semakin lambat pertumbuhannya dengan bermalas-malasan.

Serumit apapun keadaan saat ini, cobalah untuk terus saling memberi semangat dan tegur sapa yang baik. Karena, semua itu dapat memberikan dampak positif yang tidak dapat dihitung oleh angka-angka ataupun materi.

Jangan pernah menunjukan ekspresi yang tegang dan penuh kekhawatiran yang terlalu berlebihan, karena hal ini tidak baik. Justeru, akan sangat mungkin membuat yang lain ikut panik. Sebagai pimpinan perusahaan, usahakan selalu menyapa siapa saja yang ada dalam teamwork tersebut. Usahakanlah untuk tidak pernah memandang tingkatan.

Pemimpin yang baik adalah seseorang yang seakan memberikan perhatian yang lebih terhadap tim. Hingga, seakan-akan tim menyangka kalau pimpinan hanya memperdulikan pekerjaan dan tanggung jawab yang dibebankan kepada tim tersebut.

Memiliki inisiatif yang tinggi dan bertanggung jawab

Inisiatif adalah perilaku yang patut untuk dilestarikan di dalam tubuh perusahaan. Memang, setiap staff maupun karyawan punya tanggung jawab sendiri-sendiri. Namun, ada kalanya mereka tidak hanya “lempar bola” ketika mendapatkan tantangan baru.

Teladan yang baik, seharusnya datang dari yang lebih senior, dengan mengesampingkan ego yang tinggi serta cekatan dalam memikul tanggung jawab. Jika demikian, maka akan muncullah rasa segan dari bawahan dan akan menjadi budaya yang baik di dalam perusahaan.

Hal ini pun, akan memberikan motivasi kepada yang lain untuk lebih rajin dan saling membantu diantara tim. Dengan demikian, ikatan yang erat dan solid di dalam tim pun dapat terjalin secara auto-solid.

Saya masih ingat dengan nasihat orang tua saya tentang inisiatif. Ketika ada pekerjaan rumah yang terbengkalai, maka orang tua saya akan menyindir dengan kata-kata, “Orang itu harus punya inisiatif yang tinggi…”

Artinya, dalam lingkungan rumah, ada pekerjaan tertentu yang kita pikir itu bukan pekerjaan kita. Padahal, jika kita mau maka kita pun dapat melakukan pekerjaan itu. Toh, pada dasarnya pekerjaan tersebut dapat kita kerjakan dan tidak membebani diri kita. Apalagi jika memang kita pada saat itu tidak punya kegiatan, maka alangkah baiknya jika kita memberikan bantuan.

Tidak ada salahnya, jika selalu berinisiatif untuk memberikan solusi untuk tim yang lain. Boleh jadi kita bisa memulai percakapan dengan bertanya kepada rekan, “Apakah ada problem atau kendala.”

Jika kita tidak bisa membantu, setidaknya bisa menunjukkan rasa empati yang bisa memompa semangat mereka karena merasa mendapatkan support dari tim yang lain. (Baca: Membangun suasana nyaman bagi karyawan agar mereka tetap semangat bekerja).

Memiliki kemauan belajar tanpa henti

Pada era milenial saat ini, tantangan bisnis sangat beragam dan terus dinamis. Lantas, bagaimana cara menghadapi badai demi badai yang siap menerjang bisnis tanpa henti?

Cara yang paling efektif adalah dengan terus memiliki kemauan belajar dan terus berupaya sebaik mungkin untuk mengembangkan diri.

Update informasi itu memang penting, namun jangan sampai pada waktu-waktu luang hanya kita habiskan untuk membaca sesuatu yang tidak terlalu penting. Alangkah baiknya, jika waktu-waktu tersebut digunakan untuk mempelajari hal-hal baru, skill atau untuk mengasah keterampilan.

Semua orang pasti tau, setiap orang yang tidak memiliki keterampilan bagaikan prajurit yang tidak memiliki senjata.

Oleh karena itu, keterampilan yang baik pada bidang tertentu harus terus diasah dan dipelihara.

Tidak hanya sampai disitu saja, namun alangkah baiknya jika seseorang terbuka untuk mempelajari hal-hal yang baru yang berkaitan dengan bidang kerja atau keterampilan sebelumnya. Jika demikian, seseorang itu diibaratkan memiliki banyak “senjata” untuk bisa melakukan survival, bertahan hidup atau bertarung menghadapi setiap tantangan.

Alangkah baiknya, jika perusahaan juga memberikan sarana yang mudah kepada jalan tersebut. Sehingga, sangat baik sekali jika perusahaan juga membuka kesempatan training, baik dilakukan dalam lingkungan perusahaan atau dengan mengutus delegasi ke tempat pelatihan.

Bekerja tak hanya bekerja, namun sudah sepatutnya untuk terus menambah ilmu pengetahuan. Setidaknya ada perkembangan di dalam diri setiap teamwork walaupun hanya persoalan yang kecil. Belajar pun dapat dilakukan dimana saja tanpa harus duduk di kursi, namun bisa dengan berbagi cerita dan pengalaman melalui tim yang lain.

Hal ini, tidak hanya dapat mengembangkan wawasan, namun juga membangun komunikasi yang baik, kepercayaan dan rasa segan terhadap tim yang lebih senior.

Perhatikan Etika dalam bekerjasama

Setiap perusahaan, tentu memiliki kultur atau budaya kesopanan yang sudah disepakati bersama. Dalam keadaan suka atau tidak suka, setiap staff maupun karyawan harus komitmen untuk mengedepankan tata krama. Jangan sampai ada yang keluar dari jalur kesopanan yang sudah disepakati dan jangan pula menyinggung perasaan staff atau karyawan yang lain meskipun memiliki level yang lebih rendah.

Hal ini merupakan adab dan etika, ketika ia dijunjung tinggi, maka akan menjadi kekuatan yang hebat untuk mendorong perusahaan terus maju.

Oleh karena itu, ini adalah bagian daripada cara membangun teamwork yang baik dalam perusahaan. Ketika di dalam lingkungan perusahaan komunikasi antar tim baik, maka ketika diluar lingkungan perusahaan pun akan baik. Dan demikian pula sebaliknya.

Ketika setiap orang menjaga etika dan adab yang baik, maka tidak hanya secara internal, namun juga secara eksternal perusahaan akan disegani oleh siapapun.

Selalu siap dalam keadaan apapun

Bisnis itu sangat berkaitan dengan keadaan yang tak terduga, dimana pun dan kapan pun.. Ketika sudah merencanakan agenda atau strategi dalam bisnis, jangan lupa untuk menyediakan plan B. Sehingga, ketika plan A gagal, maka masih ada strategi yang lain untuk tetap meningkat secara progresif.

Ketika perusahaan sudah punya tekat untuk maju dan penjadi pioner dalam bisnis, maka ia harus siap menghadapi berbagai situasi yang mungkin datang secara tidak diduga-duga. Sebagai contohnya adalah ketika terjadi wabah Corona (Covid-19) pada tahun 2020.

Pada masa pandemi ini, banyak sekali perusahaan yang harus menghadapi badai yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Setiap perusahaan, memiliki cara mereka sendiri untuk menghadapi situasi seperti ini. Dan, pada akhirnya, hanya perusahaan-perusahaan yang punya “kekuatan” yang tetap bisa bertahan.

Meski demikian, banyak pula usaha-usaha kecil yang justeru tetap tangguh menghadapi situasi tersebut. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika tim berusaha belajar dengan mereka, walaupun mereka adalah UKM atau UMKM. Namun, ketegaran mereka dan kecerdasan mereka dalam menghadapi setiap fuktuasi ekonomi patut untuk diapresiasi.

Pasalnya, mereka bukan hanya memikirkan bagaimana diri mereka untuk bisa bertahan hidup, namun kelangsungan UMKM adalah nafas bagi bisnis-bisnis yang lain.

Percayakan team lain

Saat anda telah dipercaya untuk memikul suatu tanggung jawab baik kecil maupun besar, itu artinya anda telah memiliki kapasitas. Oleh karena itu, gunakanlah setiap kesempatan tersebut untuk mengasah skill anda lebih baik lagi. Disamping itu, tunjukkanlah bahwa anda bersama tim dapat bekerja dengan baik dalam lini perusahaan.

Tanpa bersikap angkuh, alangkah baiknya untuk membuka diri kepada yang lain untuk melakukan kolaborasi yang baik. Tujuannya adalah ada ikatan kerjasama yang kuat dan saling melengkapi antara tim di dalam perusahaan.

Disamping itu, ketika terjadi komunikasi yang baik dan secara berkesinambungan, maka langkah-langkah pun semakin sinergi dan tidak tumpang tindih.

Melakukan kolaborasi dengan tim yang lain memiliki dua keuntungan; pertama, beban anda terasa lebih ringan dan jadi lebih bersemangat. Kedua, jangkuan akan semakin lebih luas dan efektif.

Oleh karena itu, trik kolaborasi saat ini banyak digunakan di berbagai bidang seperti freelance, endorsement, influencer, digital marketing, copywriter, blogger dan lain sebagainya.

Tidak segan menyampaikan sesuatu yang baru yang bersifat membangun

Di dalam bisnis terdapat begitu banyak dinamika yang terus berubah. Baik bisnis kecil maupun besar, tidak ada yang bisa menjamin jalan akan selalu mulus. Oleh karena itu, patut ada tim tertentu yang mengawasi mutu dan alur pelayanan yang ditawarkan oleh perusahaan.

Bertindaklah seperti konsumen, lalu mulailah mengikuti alur kerja yang telah ditentukan oleh perusahaan. Kemudian, bandingkanlah dengan kompetitor yang ada.

Dari situ, maka kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan yang ada dalam pelayanan perusahaan, bahkan kita dapat mengukur sejauhmana kekuatan tim dan perusahaan ini dibandingkan dengan kompetitornya.

Dalam dinamika bisnis yang seperti ini, tidak ada salahnya untuk membuka diri dan mampu memberikan sesuatu yang baru untuk mutu yang lebih baik.

Jangan ragu, ketika dalam pikiran ada sesuatu yang baru dan bisa menunjang bisnis yang sedang dijalani, sampaikanlah. Ide, opini ataupun kritik sangatlah membantu untuk menjaga kredibilitas dari bisnis yang dijalani. Bertukar pikiran untuk menanjamkan visi dan misi sangatlah ideal untuk kemajuan dari bisnis yang dijalani.

Siap menerima kritikan

Ketika banyak ide dan saran yang bermunculan ketika briefing, maka disitu tidak heran akan muncul pula berbagai kritikan dan saran. Hal ini pun adalah wajar, asalkan setiap kritikan dan saran yang disampaikan itu dapat diutarakan dengan baik. Syukur bisa memberikan solusi yang tepat.

Pada sebagian orang, ada yang pandai menyampaikan kritikan, namun tidak mampu memberikan solusi yang tepat. Oleh karena itu, dengarkanlah kritikan dari mereka yang memang menginginkan kebaikan untuk perusahaan.

Kritikan dan saran itu bisa bertindak seperti bumerang. Jika dibiarkan dapat menyebabkan masalah yang besar di dalam perusahaan atau menyebabkan hilangnya pelanggan yang loyal. Harus ada tim khusus yang mampu mengelola setiap kritikan yang berdatangan dan mulailah mencari solusi dimulai dari yang paling krusial.

Tidak semua kritikan dan saran itu bisa dikerjakan atau harus segera diselesaikan, namun bukan berarti setiap kritikan yang paling krusial itu dapat diabaikan. Terlebih setiap hal yang menyangkut soal kenyamanan dan privasi.

Jadilah pendengar yang baik, karena hal itu adalah bagian dari kebijaksanaan. (Baca: Tips menjaga mood agar tetap semangat untuk bekerja).

Cara membangun teamwork yang baik itu tidaklah serumit dari apa yang kita bayangkan, selama kita mau bertindak mulai dari sekarang. Interaksi yang baik adalah kunci kesuksesan di dalam tim, sehingga bisa mendeteksi setiap persoalan yang muncul sejak dini sebelum mengembang menjadi lebih besar.

Fokus kepada tujuan adalah cara tepat untuk menggapai kesuksesan dalam waktu yang singkat. Namun ketika “roda” utama yang menjadi penggerak dalam bisnis belumlah kuat dan stabil, maka alih-alih cita-cita itu akan berubah menjadi kenyataan, justeru hanya akan menjadi mimpi yang tak kunjung selesai.

Jangan pernah berhenti untuk belajar dan be smart entrepreneur.

.

Related Post:

Rahasia Sukses Ala Jepang

Rahasia Sukses Ala Jepang

Jasalogounik.com — Bangsa Jepang merupakan salah satu “Macan Asia” dan salah satu negara Asia dapat menembus dominasi negara-negara Amerika dan Eropa. Jepang kaya akan budaya dan tradisi yang kuat yang menjadi rahasia kesuksesan mereka. Apa saja itu? Berikut ini sedikit yang dapat saya berikan Rahasia Sukses Ala Jepang. Selamat menyimak!

 

Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama.

Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi ), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

 

Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas.

Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

 

Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.

 

Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.

 

Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.

 

Pantang Menyerah

menjadi pemenang dalam persaingan

menjadi pemenang dalam persaingan

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah.

Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis.

Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

 

Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA.

Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb).

Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku asli (bahasa inggris).

 

Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

 

Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu, ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

 

Jaga Tradisi (bukan klenik, tapi kebiasaan yang baik)

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena ”hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang.

Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor tertentu yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar, menerima kritik dan masukan dari siapapun juga. Bagaimana dengan pendapat anda tentang Rahasia Sukses Ala Jepang? (Umar/dbs)

 

 

Related Post:

Bagaimana agar dapat desain logo perusahaan yang 100% original?

Bagaimana agar dapat desain logo perusahaan yang 100% original?

Jasalogounik.com — Sudah sepatutnya setiap logo usaha atau merk dagang memiliki nilai yang tidak hanya unik dan profesional, akan tetapi ada nilai yang lebih penting dari semua itu, yaitu desain logo yang original. Disinilah letak peran seorang desainer. Oleh sebab itu, memilih desainer logo bukan sekedar ia mampu melakukan desain secara umum, karena logo memiliki posisi tersendiri dalam dunia desainer. Bukan pula harga yang murah, akan tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah kualitas dan Logo Original yang ditawarkan.

Jangan sampai tergiur dengan murahnya pelayanan desain logo, sebab yang harus Anda teliti adalah kualitas dan hasil desainnya. Apakah memenuhi syarat-syarat logo yang baik dan memiliki nilai yang Original? 

Didalam dunia desain, semakin banyak karya desain yang tersebar di dunia maya, maka semakin besar kemungkinan terjadi plagiat dalam desain berikutnya.

Ini merupakan efek meningkatknya tuntutan untuk menjadi kreatif dan cepatnya melakukan desain logo. Ditambah lagi persaingan dan kisaran harga desain logo di negeri ini sangat murah. Oleh karena itu, akan memaksa desainer-desainer baru untuk kerja cepat dengan memberikan pilihan yang banyak. (Baca: Cara mengenali desainer logo amatir, apakah anda sudah tau?)

Logo amatir: mendaur ulang logo orang lain

 

Cara mendapatkan desain logo 100% original

Berikut ini adalah beberapa saran dari desainer logo Jasalogounik.com bagi setiap orang yang menginginkan desain logo yang 100% original.

Sangat diharuskan, bagi setiap pengusaha, untuk berusaha sebaik mungkin agar desain logo perusahaan yang dimilikinya atau desain logo produknya adalah benar-benar unik dan original. Jangan sampai terjadi kemiripan dengan logo perusahaan atau brand lainnya.

Adapun diantara upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadi kemiripan pada desain logo dengan kompetitor yang lain adalah sebagaimana berikut:

  • Menghindari brand name yang mirip
  • Tentukan konsep, ceritakan desain yang Anda inginkan kepada desainer yang Anda pilih. Sehingga, kemungkinan terjadinya plagiat sangat minim, karena Anda sendiri sudah memiliki konsep walau hanya sekedar dalam perkiraan
  • Browsing terlebih dahulu, karena ini adalah tuntutan yang harus dilakukan, sebelum menentukan brand name dan logo. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesamaan dengan brand yang lain
  • Teliti saat memilih jasa desain

Misalnya logo yang bertemakan “love,” logo untuk tema ini sangat besar kemungkinan terjadi kesamaan dengan logo yang akan dibuat oleh seorang desainer. Bila terjadi kemiripan dan dominan, tentu saja ini cukup merugikan usaha Anda. Sebab, hal ini akan membingungkan dan menyusahkan konsumen. Meraka akan bertanya, “Manakah brand yang sebenarnya?”

Logo amatir: desain logo terlalu generik.
Logo amatir: desain logo terlalu generik.

Walaupun, ada juga kemungkinan ini tidak akan ada masalah, terutama untuk tema yang sangat popular. Namun, Ada baiknya untuk menghindari kemiripan logo dengan brand lain. Menurut pengalaman kami, semua itu bisa diawali dengan memunculkan brand name yang berbeda dan original.

Setiap perusahaan sudah barang tentu menginginkan nilai original dan hak paten pada brand mereka. Maka, jangan sampai setelah usaha Anda berjalan lama, Anda mendapat gugatan untuk mengganti brand name atau logo Anda, kasus seperti ini cukup banyak dan ada diberbagai sektor.

Konsumen juga tidak ingin salah memilih, karena tidak faham dengan perbedaan brand name dan logo Anda dengan merk lain. Seorang konsumen, umumunya tidak terlalu peduli tentang perbedaan ini, mereka hanya melihat brand name dan logo secara sepintas saja. Kebanyakan dari mereka baru menyadari ada perbedaan yang sangat berarti setelah produk sudah mereka beli dan dibawa pulang. [OmBranding/Jasalogounik]

Related Post:

Apakah perbedaan antara branding dan marketing?

Apakah perbedaan antara branding dan marketing?

Jasalogounik.com – Dimana letak perbedaan antara branding dan marketing? Dalam percakapan bisnis di luar negeri, dua orang pelaku bisnis senior saling berbincang, salah satuya berkata, “Saya pikir seorang manager akan memerlukan banyak waktu untuk menilai betapa pentingnya sebuah branding. Mereka justeru menganggap bahwa marketing adalah sebagai sumber utama datangnya keuntungan, bukan sebagai penopang penjualan.” Baiklah, artikel ini akan secara ringkas membicarakan tentang apakah perbedaan antara branding dan marketing? Yuk kita simak.

Ada banyak spekulasi dan opini dalam hal ini, akan tetapi menurut hemat saya, marketing adalah pihak yang secara aktif memasarkan dan mempromosikan suatu produk atau jasa. Ini lebih cenderung kepada dorongan taktis, yaitu strategi marketing. Lebih jelasnya adalah bahwa bagaimana seorang marketing dapat “mempengaruhi” calon konsumen untuk membeli atau menggunakan produk dan jasa yang telah ditawarkan.

Marketing memiliki bahasa yang lebih lugas

Dalam dunia marketing, setiap interaksi dengan pelanggan potensial, interaksi mereka tertuju pada pesan eksplisit (jelas) yang berbicara, “beli produk kami, karena ini lebih baik daripada produk mereka.” Atau boleh jadi dengan argumen-argumen yang lain, “…ini lebih keren… dan banyak lho para selebriti yang menyukainya…”

Dampak positif desain logo profesional bagi Perusahaan dan pengaruhnya dalam branding
Dampak positif desain logo profesional bagi Perusahaan dan pengaruhnya dalam branding

Mungkin contoh ini terlalu berlebihan, tapi itulah kenyataannya, sebagai contoh sederhana. Toh, dapat kita lihat di banyak iklan di televisi, mereka menggunakan beberapa artis atau aktor sebagai brand ambasador suatu produk. Inilah diantara strategi marketing yang digunakan oleh perusahaan untuk mendongkrak citra penjualan mereka.

Oleh karena itu, ini bukanlah branding.

Branding itu adalah strategi, marketing bersifat teknis

Jasalogounik.com – Pada artikel kali ini, kita ingin lebih memahami tentang apa perbedaan branding dan marketing. Sebagai penegasan, artikel ini akan mengupas tema umum yang berkaitan dengan hipotesa, bahwa “Branding itu adalah strategi, marketing adalah taktis”. Jika tidak keberatan, anda juga dapat membaca artikel kami sebelumnya berjudul, Branding dan bagaimana pengaruhnya di mata konsumen.

Sebuah kegiatan marketing dapat memberikan kontribusi untuk sebuah branding, tapi dalam kondisi tertentu branding memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada marketing. Branding adalah apa yang menjadi penilaian orang, setelah seorang marketing sukses menjual habis produknya. Yaitu apa yang anda rasakan setelah berinteraksi dengan suatu produk atau jasa, apa penilaian anda, apa yang anda pikirkan dan apakah itu layak atau tidak?

Setelah produk yang anda gunakan telah habis, atau setelah anda menggunakan jasa yang anda pilih, apakah anda akan berfikir untuk kembali menggunakannya di lain waktu?

Inilah pondasi utama yang membedakan antara branding dan marketing.

Pada akhirnya, branding adalah apa yang akan menentukan berikutnya. Apakah nantinya anda bersedia menjadi pelanggan setia atau tidak?

Barangkali seorang marketing dapat menyarankan anda untuk membeli motor baru atau menyewa jasa servis tertentu untuk memperbaiki rumah anda. Boleh jadi, itu adalah pengalaman baru buat anda. Tetapi jika itu adalah branding dan anda tau bahwa produk yang ditawarkan kepada anda telah memiliki branding yang baik (baca: reputasi yang baik) anda pasti tidak akan ragu untuk membelinya.

Nah, dengan demikian, anda akan semakin paham, apa perbedaan antara branding dan marketing.

Jadi dapat dihipotesakan, atau mungkin disimpulkan, bahwa branding itu strategi (untuk membuat orang percaya), sedangkan marketing itu adalah taktis (yaitu bagaimana membuat orang lain mengenal brand anda).

Jasa desain poster, banner dan branding logo perusahaan. Brand Book: Mengapa setiap perusahaan harus memiliki Brand Manual Guidlines?
Desain brosur profesional

Branding itu dibangun oleh banyak hal dan banyak aspek mendasar. Kemudian hal itu akan menjadi prinsip-prinsip mendasar yang harus diwujudkan untuk membangun branding yang baik.

Branding adalah apa saja yang berkaitan dengan “sejarah hidup” brand itu sendiri. Apakah produk itu memenuhi setiap janji-janji yang ditawarkan? Apakah produk tersebut terus meningkatkan kualitasnnya? Atau apakah jasa dan layanan servis mengetahui betul apa yang mereka katakan?

Dan yang terakhir adalah, apakah suatu brand dapat mewujudkan apa yang di-branding-kan atas “dirinya”…?

Hal ini penting untuk diwujudkan dan oleh karena itu, dalam mencitrakan diri, jangan terlalu berlebih-lebihan yang justeru sulit untuk direalisasikan. Jangan sampai seolah-olah hanya menjadi wacana yang tidak pernah menjadi nyata. Sehingga, membuat publik memiliki opini yang negatif terhadap suatu brand, misanya “PHP” atau suka umbar janji-janji palsu.

Marketing itu mendorong seseorang untuk membeli, sementara branding itu membuat pembeli menjadi pelanggan setia dan terlibat dalam kegiatan merketing.Keduanya bekerja untuk saling melengkapi, yang satu sisi mendukung untuk segera terjualnya suatu produk dan jasa, dan begitu pula pada sisi yang lainnya. (Baca: Dapatkan desain logo profesional dan lampaui kompetitor anda mulai dari sekarang).

Kolaborasi branding dan marketing yang baik

Menciptakan branding yang baik untuk jasa atau produk yang ditawarkan adalah sesuatu yang mutlak untuk dilakukan. Mengapa? Karena dengan branding sebenarnya kita sedang membuat seseorang menjadi familiar dengan nama produk kita. Semakin familiar maka semakin tumbuh kepercayaan.

Ada ratusan, bahkan ribuan produk baru yang ditawarkan di pasar, tapi apakah anda langsung percaya dengan produk tersebut? Apakah anda yakin produk yang ditawarkan benar-benar aman dan berkualitas? Apalagi jika berkaitan dengan kesehatan, kebanyakan orang akan takut untuk mencoba-coba.

Nah, disinilah fungsi branding. Yaitu memberikan sarana edukasi dan promosi yang tepat kepada calom konsumen, sehingga membuat mereka yakin dan percaya untuk menggunakan produk yang kita tawarkan.

Branding yang baik akan mendorong orang lain untuk percaya bahwa merek atau produk kita adalah produk yang berkualitas. Branding tidak berdiri sendiri, dan ia tidak memiliki titik habis. Artinya ada banyak sekali sarana untuk meningkatkan branding perusahaan anda. Sebagaimana contoh sederhana yang telah kami paparkan dalam artikel kami, Desain grafis adalah salah satu sarana untuk menciptakan branding yang baik.

Jasa branding desain logo dan kemasan produk by Jasalogounik.com dan Haruskah menyertakan logo perusahaan pada kemasan produk?
Label Belantara Coffee

Branding adalah pencitraan suatu produk untuk menarik perhatian

Sebuah branding harus memiliki citra yang baik untuk mendasari setiap usaha marketing. Branding itu lebih cenderung menarik perhatian, bukan memberikan “tekanan” kepada pembeli untuk segera membeli produk. Branding adalah suatu ekspresi dari wujudnya nilai esensial suatu produk atau jasa. Ia adalah sebuah komunikasi yang muncul dari karakteristik yang telah dibangun dengan desain yang menarik. Tersesusun dari banyak aspek, sehingga memberikan kesan yang positif, meskipun ia tidak berbicara banyak layaknya seorang sales. Akan tetapi keadaannya seperti pepatah, “penampilan yang baik itu seolah berbicara dengan seribu bahasa.”

Sampai disini anda sudah dapat membayangkan secara singkat, apa perbedaan antara branding dan marketing. Topik pembicaraan ini selengkapnya dapat anda simak pada bagian selanjutnya dari artikel kami berjudul, Branding dan bagaimana pengaruhnya di mata konsumen”. Semoga artikel kami tentang apakah perbedaan antara branding dan marketing dapat memberikan keterangan yang singkat dan padat buat anda. [OmBranding/tronvig]

Related Post: